PooIQ

Kesehatan Feses

BAB Berlendir: Normalkah? Penyebab dan Langkah Selanjutnya

Sedikit lendir pada tinja bisa normal. Kenali perubahan yang perlu diperhatikan, kaitannya dengan IBS, IBD, dan infeksi, serta hal yang perlu dicatat sebelum konsultasi.

Oleh Tim Editorial PooIQDiterbitkan 7 menit baca
Dalam artikel ini
  1. Seperti apa lendir pada tinja?
  2. Apa penyebab BAB berlendir?
  3. Kapan harus ke dokter karena BAB berlendir?
  4. Apa yang bisa dilakukan sambil menunggu saran dokter?
  5. Apa yang perlu dicatat sebelum konsultasi?
  6. Bagaimana dokter mencari tahu penyebabnya?
  7. Langkah selanjutnya yang jelas, bukan diagnosis dari isi kloset

Sedikit lendir pada tinja biasanya normal: usus memproduksinya untuk menjaga lapisan usus besar tetap lembap dan membantu tinja keluar. Jika lendir lebih banyak dari biasanya, muncul berulang, atau disertai perdarahan, nyeri perut, maupun perubahan pola buang air besar (BAB), sebaiknya konsultasikan dengan dokter, bukan menyimpulkan diagnosis dari tampilannya saja.

Melihat sesuatu seperti jeli di kloset bisa membuat khawatir. Sebelum membandingkan foto di internet, fokuslah pada pertanyaan yang lebih sederhana: apa lagi yang berubah? Panduan ini menjelaskan berbagai kemungkinan utama dan membantu Anda menyiapkan keterangan yang berguna bagi dokter.

Seperti apa lendir pada tinja?

Lendir adalah zat licin menyerupai gel. Lendir bisa menempel pada tinja, mengapung di sekitarnya, atau terlihat pada tisu setelah membersihkan anus. Sedikit lendir bening pada tinja bisa normal; lendir yang jumlahnya jauh lebih banyak dari biasanya atau tampak berdarah, putih keruh, maupun kekuningan perlu dikonsultasikan dengan tenaga kesehatan.

Anda tidak perlu mengukurnya atau memeriksa setiap kali BAB. Untuk catatan, keterangan sederhana seperti “sedikit garis lendir bening” atau “lebih banyak dari biasanya” sudah cukup. Pisahkan deskripsi lendir dari deskripsi tinja: “tinja cokelat, berbentuk, dengan lapisan bening” lebih berguna daripada “tinja aneh”.

Apakah warna lendir menunjukkan penyebabnya?

Tidak bisa diandalkan. Lendir putih pada tinja dapat terjadi pada IBS, sedangkan lendir putih atau kuning juga bisa muncul pada kondisi peradangan. Karena ada kemiripan ini, lendir kuning pada tinja saja bukan bukti adanya infeksi. Warna merupakan petunjuk untuk disampaikan, bukan diagnosis.

Jelaskan apa yang benar-benar Anda lihat, alih-alih memberi label seperti “nanah” atau “infeksi”. Jika tidak yakin, sampaikan saja. Dokter dapat menentukan apakah pemeriksaan sampel tinja atau penilaian lain diperlukan.

Apa penyebab BAB berlendir?

Kemungkinan utama meliputi produksi lendir yang normal, sembelit, IBS, peradangan, dan infeksi usus. Gejala penyerta membantu mengarahkan pemeriksaan, tetapi tampilan berbagai kondisi ini bisa serupa.

Lendir normal dan sembelit

Usus besar secara normal menghasilkan lendir, jadi melihat sedikit lendir tidak otomatis menandakan penyakit. Sembelit juga diketahui dapat membuat lendir terlihat pada tinja, dan lendir yang terkait dengan sembelit dapat berkurang setelah sembelit teratasi.

Jika Anda sering mengejan, sampaikan hal itu bersama keluhan lendir. Catat juga apakah tinja keras, apakah BAB terasa sakit, dan apakah setelahnya terasa tuntas. Jangan hanya berfokus pada “lendir” jika proses BAB itu sendiri juga berubah.

Sindrom iritasi usus besar: lendir disertai pola BAB yang berulang

Sindrom iritasi usus besar, atau IBS, umumnya melibatkan nyeri perut yang berkaitan dengan BAB serta perubahan frekuensi atau bentuk tinja. Sebagian orang mengalami diare, sebagian sembelit, dan sebagian lainnya mengalami keduanya secara bergantian. Kembung, rasa BAB belum tuntas, dan lendir keputihan juga dapat terjadi.

IBS adalah gangguan interaksi antara usus dan otak. Kondisi ini dapat menimbulkan nyeri dan mengganggu aktivitas, tetapi tidak merusak saluran pencernaan. Dokter menilai pola gejala dari waktu ke waktu; lendir saja tidak cukup untuk memastikan IBS.

Makanan, minuman, stres, dan kecemasan dapat memicu kekambuhan pada sebagian orang. Namun, perdarahan dari rektum atau penurunan berat badan tanpa sebab yang jelas tidak boleh dianggap “cuma IBS”, sekalipun Anda sudah didiagnosis IBS.

Penyakit radang usus: lendir disertai peradangan

Penyakit radang usus, atau IBD, mencakup penyakit Crohn dan kolitis ulseratif. Keduanya berbeda dari IBS. Kedua penyakit ini dapat berkaitan dengan lendir pada tinja, dan kolitis ulseratif dapat menyebabkan diare, perdarahan dari rektum, kram perut, serta desakan untuk segera BAB.

Gejala lainnya adalah tenesmus: rasa ingin BAB meskipun usus mungkin sudah kosong. Kolitis ulseratif yang lebih berat juga dapat disertai kelelahan, demam, atau penurunan berat badan. Gejala dapat mereda saat remisi dan muncul kembali saat kambuh.

Karena itu, BAB berdarah dan berlendir perlu diperiksa, tetapi tidak membuktikan adanya IBD. Jika Anda sudah memiliki IBD, laporkan perubahan dari pola biasanya kepada tim yang merawat Anda, alih-alih menganggap tampilan tinja menunjukkan seberapa aktif penyakitnya.

Infeksi usus: lendir disertai diare mendadak

Infeksi usus dapat menyebabkan lendir berlebih, terutama jika disertai diare. Penyakit yang timbul mendadak juga dapat menyebabkan kram, muntah, demam, atau tinja berdarah. Penyakit akibat makanan yang terkontaminasi dan gastroenteritis akibat virus termasuk penyebab diare mendadak.

Beri tahu dokter tentang perjalanan baru-baru ini, kemungkinan paparan dari makanan, kontak dengan orang sakit, dan penggunaan antibiotik. Catat urutan waktunya, bukan menebak paparan mana yang menjadi penyebab: “diare mulai hari Selasa; mulai minum antibiotik minggu lalu” merupakan informasi awal yang berguna.

Penyebab lain yang mungkin dipertimbangkan dokter

Peradangan rektum, yang disebut proktitis, dan divertikulitis juga dapat menyebabkan lendir. Kemungkinan-kemungkinan ini menjadi alasan lain untuk tidak mendiagnosis diri sendiri berdasarkan foto atau warna lendir.

Anda tidak perlu menelusuri daftar penyakit yang panjang sendiri. Tugas Anda adalah menjelaskan perubahannya; tugas dokter adalah mempersempit kemungkinan penyebabnya.

Kapan harus ke dokter karena BAB berlendir?

Segera konsultasikan dengan dokter jika lendir bertambah, terus berulang, atau disertai perubahan pola BAB. Jangan menunggu sampai terasa sakit untuk menyampaikan perubahan yang menetap.

Panduan berikut ditujukan untuk orang dewasa. Panduan ini membedakan temuan kecil yang hanya terjadi sekali dari gejala yang memerlukan penanganan lebih cepat.

Yang Anda temukan Yang perlu dilakukan
Sedikit lendir bening sekali saja, dengan tinja seperti biasa dan tanpa gejala lain Catat dan perhatikan apakah muncul lagi.
Lendir lebih banyak dari biasanya atau perubahan yang berulang Buat janji pemeriksaan dengan dokter.
Darah, tinja hitam seperti ter, nyeri perut atau rektum yang hebat, atau dehidrasi Segera cari pertolongan medis.
Diare lebih dari dua hari, demam tinggi, atau BAB encer enam kali atau lebih sehari Segera hubungi dokter.

Langkah-langkah ini mengacu pada anjuran Mayo Clinic mengenai lendir dan tanda bahaya diare dari NIDDK.

Gejala yang memerlukan penanganan segera

Pada diare, tanda bahaya meliputi sering muntah, urine sangat sedikit, rasa haus yang kuat, pusing, atau perubahan kondisi mental. Dehidrasi berat mungkin memerlukan perawatan di rumah sakit. Jika muncul kebingungan atau kondisi sakit yang berat, cari pertolongan darurat, bukan terus memantau di rumah.

Penurunan berat badan tanpa sebab yang jelas dan perdarahan dari rektum juga memerlukan pemeriksaan segera, bukan dianggap sebagai IBS. Untuk informasi lebih lanjut tentang tinja berwarna gelap, baca panduan kami mengenai tinja hitam dan tanda bahayanya.

Sebagian orang perlu menghubungi dokter lebih awal

Orang yang mengalami diare saat hamil, berusia lebih dari 65 tahun, sedang mengonsumsi antibiotik, atau memiliki daya tahan tubuh lemah perlu tetap berkomunikasi dengan dokter karena risiko komplikasinya lebih tinggi. Untuk bayi dan anak, segera minta saran dokter anak; jangan gunakan batas waktu tunggu untuk orang dewasa.

Apa yang bisa dilakukan sambil menunggu saran dokter?

Mulailah dari gejala Anda, bukan dari produk yang menjanjikan untuk “membersihkan” lendir. Pengobatan bergantung pada penyebab dasarnya. Jika Anda sudah menjalani pengobatan untuk gangguan pencernaan, konsultasikan dengan tim yang merawat Anda sebelum menambahkan obat bebas atau membuat perubahan besar.

Ganti cairan yang hilang jika mengalami diare

Minumlah cairan dan ganti elektrolit yang hilang. Larutan rehidrasi oral seperti oralit dapat membantu; orang dengan penyakit ginjal, diabetes, atau kondisi kesehatan terkait lainnya perlu menanyakan jenis dan jumlah cairan yang sesuai. Setelah nafsu makan kembali, biasanya Anda dapat kembali ke pola makan seperti biasa.

Berhati-hatilah saat mengobati diri sendiri

Jangan menggunakan obat antidiare yang dijual bebas untuk diare berdarah atau diare disertai demam tanpa saran dokter. Sebagian infeksi memerlukan pengobatan khusus, sedangkan banyak kasus diare akut sembuh tanpa pengobatan khusus. Lendir saja tidak menunjukkan apakah obat diperlukan.

Jika Anda menduga ada kaitan dengan makanan, catatlah alih-alih langsung menghindari beberapa kelompok makanan sekaligus. Sampaikan pengamatan itu saat konsultasi. Salah satu pertanyaan yang berguna adalah: “Apakah saya perlu mengubah sesuatu sekarang, atau tetap menjalankan kebiasaan seperti biasa sambil mencari penyebabnya?”

Apa yang perlu dicatat sebelum konsultasi?

Catatan singkat membantu Anda menjelaskan apa yang terjadi dengan jelas. Anda tidak memerlukan catatan yang sempurna, foto setiap kali BAB, atau catatan selama seminggu sebelum meminta pertolongan.

Pertimbangkan untuk mencatat:

  • Waktu: Kapan pertama kali melihat lendir dan apakah muncul setiap kali BAB.
  • Jumlah: Sedikit garis lendir, lapisan pada tinja, atau tampak lebih banyak dari biasanya.
  • Tampilan: Bening, keputihan, kekuningan, atau mungkin terdapat garis darah.
  • Pola tinja: Berbentuk, keras, lembek, atau cair; jumlah BAB.
  • Gejala lain: Nyeri, desakan BAB, demam, muntah, atau sulit mengeluarkan tinja.
  • Konteks: Obat yang baru digunakan, perjalanan, penyakit, makanan, atau peristiwa yang menimbulkan stres.

Gunakan Skala Bentuk Tinja Bristol sebagai acuan saat menjelaskan bentuk tinja. Buat catatan terpisah tentang lendir, alih-alih memaksakan semua pengamatan masuk ke dalam satu tipe tinja.

Contoh catatannya: “Senin pagi: tinja lembek, BAB kedua hari ini, sedikit lapisan bening, kram ringan sebelumnya, tidak tampak darah.” Ini adalah contoh format pencatatan—bukan pola yang menunjukkan kondisi tertentu.

PooIQ dapat membantu menata pengamatan dari foto tinja, catatan makanan dan gejala, serta laporan PDF yang siap dibawa ke dokter. PooIQ hanya memberikan informasi dan bukan alat kesehatan; jangan gunakan analisis fotonya untuk menentukan ada tidaknya lendir, darah, infeksi, atau peradangan.

Jika Anda ingin rutinitas pencatatan yang bisa digunakan berulang, panduan pencatatan gejala IBS kami dapat menjadi titik awal. Fokuskan catatan pada pertanyaan yang ingin Anda jawab, bukan menjadikan setiap kunjungan ke toilet sebagai proyek penelitian.

Bagaimana dokter mencari tahu penyebabnya?

Dokter dapat meninjau gejala, obat-obatan, riwayat kesehatan, dan riwayat keluarga Anda, lalu memeriksa perut. Bergantung pada temuannya, tes darah dapat dilakukan untuk memeriksa anemia atau masalah lain, dan tes tinja dapat mencari darah maupun tanda infeksi dan penyakit.

Sebagian orang memerlukan pemeriksaan lanjutan, seperti kolonoskopi untuk menyelidiki kemungkinan IBD atau kondisi lain. Tidak semua orang membutuhkan semua tes; keputusan bergantung pada pola gejala, tanda bahaya, riwayat keluarga, dan hasil pemeriksaan awal.

Bawalah pertanyaan beserta catatan Anda. Anda bisa bertanya: “Penyebab apa yang sesuai dengan gejala saya?”, “Apa yang bisa diketahui dari tes ini?”, dan “Perubahan apa yang membuat saya perlu menghubungi dokter sebelum jadwal kontrol?” Sebelum pulang, pastikan Anda memahami langkah berikutnya dan cara menerima hasil pemeriksaan.

Langkah selanjutnya yang jelas, bukan diagnosis dari isi kloset

Gunakan pengamatan Anda untuk memulai percakapan yang bermanfaat, bukan untuk menetapkan diagnosis sendiri. Catat perubahan dengan bahasa sederhana, mintalah pertolongan saat diperlukan, dan jangan menunggu foto yang sempurna atau catatan yang lengkap sebelum menghubungi tim yang merawat Anda.

Pertanyaan yang sering diajukan

Apakah stres bisa menyebabkan BAB berlendir?

Stres dapat memicu kekambuhan IBS, dan keluarnya lendir saat BAB bisa menjadi salah satu gejalanya. Namun, bukan berarti setiap perubahan baru pada BAB disebabkan oleh stres. Catat apakah gejala muncul saat sedang stres, tetapi konsultasikan dengan dokter jika juga ada perdarahan atau penurunan berat badan tanpa sebab yang jelas, alih-alih menganggapnya akibat stres.

Apakah BAB berlendir berarti kanker usus besar?

Tidak. Lendir saja tidak cukup untuk menegakkan diagnosis kanker, dan dalam jumlah sedikit biasanya normal. Kanker merupakan salah satu dari beberapa kemungkinan penyebab jika lendir disertai perubahan yang mengkhawatirkan. Dokter dapat menilai pola gejalanya, terutama jika ada perdarahan, nyeri perut menetap, atau perubahan pola BAB.

Apakah IBS bisa menyebabkan lendir putih tanpa darah?

Ya. Lendir keputihan merupakan salah satu gejala IBS yang dikenal, selain nyeri perut, kembung, serta sembelit, diare, atau keduanya. Namun, lendir putih saja tidak cukup untuk mendiagnosis IBS. Dokter menilai pola gejala dari waktu ke waktu, sedangkan perdarahan atau penurunan berat badan tanpa sebab yang jelas memerlukan pemeriksaan untuk mencari penyebab lain.

Apakah probiotik bisa menghilangkan lendir pada tinja?

Tidak ada satu pengobatan yang dapat menghilangkan lendir tanpa mempertimbangkan penyebabnya. Jika juga ada diare, bukti yang tersedia belum secara jelas mendukung penggunaan probiotik secara rutin untuk mengobati atau mencegahnya. Konsultasikan dengan dokter sebelum mulai mengonsumsi suplemen, terutama jika gejala menetap; yang utama adalah memahami dan menangani penyebab dasarnya.

Sumber

  1. Mayo Clinic: Mucus in stool—A concern?
  2. Cleveland Clinic: Mucus in Stool (Poop)
  3. NIDDK: Symptoms & Causes of Irritable Bowel Syndrome
  4. NHS: Symptoms of IBS (irritable bowel syndrome)
  5. NIDDK: Symptoms & Causes of Ulcerative Colitis
  6. NIDDK: Symptoms & Causes of Diarrhea
  7. NIDDK: Treatment of Diarrhea
  8. NIDDK: Diagnosis of Irritable Bowel Syndrome

Artikel ini hanya untuk informasi dan bukan nasihat medis. Selalu konsultasikan gejala atau kekhawatiran Anda dengan tenaga kesehatan yang berkualifikasi.

Tim Editorial PooIQ

Tim PooIQ menulis panduan praktis berbasis riset tentang kesehatan pencernaan untuk membantu Anda memahami tubuh dan berdiskusi lebih baik dengan dokter.

Artikel terkait

Mulai pahami usus Anda hari ini

Bergabunglah dengan ribuan orang yang melacak kesehatan usus mereka dengan PooIQ. Analisis pertama Anda gratis.

Unduh di App Store

← Kembali ke blog